Sabtu, 30 Juli 2011

Identitas Orang Karo

Karakteristik atau identitas dari sifat orang Karo memiliki ciri khas yang berbeda dengan etnis lain yang terdapat di Sumatera Utara. Karateristik orang karo sangat banyak dipengaruhi oleh lingkungan alam yang mengitarinya, sebagai anak pedalaman dalam hutam rimba raya dan mentalis agraris, atau mungkin juga disebabkan oleh sejarah penaklukan Kerajaan Haru di mana salah satu sempalannya adalah Suku karo yang mendiami daerah-daerah dataran tinggi, baik di Tanah Karo, Medan, Deli Serdang, Langkat, Binjai, Simalungun, Dairi dan Aceh Tenggara.
Sebagai masyarakat yang terisolir di pedalaman dataran tinggi Karo dan sekitar hilirnya, ternyata sebagai sebuah komunitas, disana juga terbentuk sebuah budaya yang menjjadi patron bagi masyarakat Karo dalam berhubungan dengan Sang Pencipta, alam beserta isinya dan khususnya hubungan antara masyarakat didalamnya. Kesemuanya Pola hubungan tersebut tertuang dalam sebuah aturan tidak tertulis yang mengatur yang di sebut dengan budaya. Aspek budaya , yang mana menurut singarimbun (1989), merupakan identitas karo, di sebut terdapat 4 identitas, meliputi Merga, Bahasa, Kesenian, dan Adat Istiadat.

a. Merga adalah identitas masyarakat Karo yang unik. Setiap orang karo mempunyai merga, yaitu salah satu dari 5 merga (yang disebut dalam bahasa karo Silima Merga), Yaitu Ginting, Karo-karo, Perangin-angin, Sembiring, Tarigan.
b. Bahasa karo merupakan bahasa khusus dan mempunyai aksara khusus pula.
c. Kesenian Karo yang tradisional adalah gendang dan pakaian adat
d. Adat istiadat tertentu yang merupakan identitas adalah adanya perundingan adat yang di sebut runggu (musyawarah dan mufakat) dalam acara perkawinan dan dalam acara adat lainnya, dan rebu (pantang biacara dengan kerabat tertentu)

Merga bagi orang karo adalah hal yang paling utama dalam identitasnya. Dalam setiap perkenalan dalam masyarakat karo lerlebih dahulu ditanyakan adalah merga. Merga berasalah dari kata meherga berarti mahal. Mahal dalam konteks budaya karo berarti penting. Setelah di tanyakan merga kemundia di tanyakan bere-bere (merga= untuk perempuan disebut beru) yang dibawa ibunya.  Setelah merga dan bere-bere ditanyakan didapatkan identitas melalui terombo atau silsilah, selanjutnya masuk kepada tema pembicaraan berikutnya.

Bahasa  dan aksara Karo merupakan karya budaya yang memiliki nilai budaya yang tak ternilai harganya. Semua suku di indonesia di perkirakan lebih dari 300-an suku memuliki bahasa, tetapi tidak semua suku di indonesia memiliki aksara/huruf. Suku karo memiliki aksara, berarti leluhur karo dulunya sudah pandai baca tulis alias tidak buta huruf. Mengenai aksara Karo, Prof. Hendry Guntur Tarigan pernah mensitir bahwa  Bahasa Karo adalah Bahada tertua kedua di Indonesia setelah bahasa Kawi ( sansekerta/Jawa kuno). Dalam kaitan ini Tengku lukman Sinar membandingkan beberapa istilah Bahasa karo dan Bahasa sansekerta yang bermiripan.

            sansekerta                                               Karo
           Aditya ( minggu )                                       Aditya
           Soma                                                         Suma
           Anggara                                                    Anggara
           Budha                                                       Budalia
           Beraspati                                                   Beraspati
           Syukra                                                      Cukera
           Syanaisycara                                             Sanusera
           Yoga                                                         Iyoga
dan masih banyak lagi .

Nama "URUNG" berasal dari perkataan bahasa Tamil "UR", artinya kampung atau nama "URUM" sebuah kampung terdiri dari kasta sudra ( petani) yang ada di india selatan zaman dahulu kala. (lihat Burton Stein dalam "Coromandel Trade in Medival India", 1965).

Kesenian karo  tradisional terdiri dari gendang dan pakaian adat bersamaan hadirnya orang karo. Acara gendang ini di tampilkan dalam setiap acara adat, seperti adat perkawinan, kematian dan mengket rumah. Gendang karo terdiri dari Gong, penganak, kecapi, serune, surdam. Sedangkan pakaian adat karo, secara lengkap dapat terlihat ketika pesta adat perkawinan terdiri dari  uis nipes,beka buluh, sertali, rudang-rudang, gelang serong, uis arinteneng, uis emas-emas, rag jenggi dan tapak gajah, kelam-kelam, anting kodang-kodang. Mengenai busana ini akan coba di jelaskan nantinya pada bagian Tata Busana Karo.

Adat istiadat yang paling melekat pada orang karo adalah budaya runggu ( musyawarah dan mufakat). Runggu ini dilaksanakan dalam acara prosesi adat karo dalam acara perkawinan, kematian dan mengket rumah. Pada acara tersebut setiap keputusan yang diinginkan dalam acara adat harus terlebihdahulu melalui proses runggu.

Adat rebu ( pantang bicara dengan kerabat tertentu ). Bagi orang karo tidak boleh bicara secara langsung (dalam hal ini subjek adalah seorang laki-laki yang telah menikah) adalah dengan mami (ibu mertua), turangku (istri ipar), permain ( istri anak laki-laki). Kalo berbicara mesti memakai perantara (sitepu, 1979: 11-12)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar